BRO SAWER - Let Share What We Must Share
Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Thursday, April 9, 2009

Keteladanan yang harus ditiru dari sosok pemimpin Iran

Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:
"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:
"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :


1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan
Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu
kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,
lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler
untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.



3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya
dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya,
arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana
dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi,
sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977,
sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.
Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.
Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis,
belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan;
roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,
ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.



9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan,
ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya,
ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan,
dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan.
Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi,
atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar
karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut,
kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.


12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka


13. Bahkan ketika suara azan berkumandang,
ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa


14. baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden


Lihat aja makanannya cuman ada Pisang,Jeruk,Apel

Salut banget ama beliau

Kapan kita punya presiden kayak gini

Hidup penuh kesederhanaan

Sebelumnya saya mohon maaf karena tulisan ini saya copy-paste dari sini
Terima kasih saya ucapkan kepada nanakitaro yang telah memposting sebelumnya

Saturday, October 25, 2008

Pertapa Muda dan Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa
muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar
tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera
melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga
tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.


Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera
mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat
tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa
muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi
hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama
bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang
sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami
kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan
tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi
membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus
lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya
makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang
menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu
menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi
menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu
hingga sobek seperti itu?"

"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang
benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka,
saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa
menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,"
jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih
sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut
sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang
terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap
ranting itu dengan capitnya. "Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan
sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan
kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk
lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri.
Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?"

Seketika itu, si pemuda tersadar. "Terima kasih, Paman. Hari ini
saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai
dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat
kebijaksanaan yang Paman ajarkan."

Pembaca yang budiman,
Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang
lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada
anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan
yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi
bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar
berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang
tidak perlu.

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya
diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan
itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu,
tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita
yang membantu.



Sumber: Pertapa Muda dan Kepiting oleh Andrie Wongso

Manajemen Sedikit

Mas Bambang, seorang veteran bisnis yang telah bergelut dalam dunia
bisnis lebih dari 40 tahun punya resep yang unik, dia beliau
menyebutnya: "Manajemen Sedikit". Secara prinsip Mas Bambang mengaku
dia lebih senang berbuat sedikit mungkin, terutama dalam mencampuri
urusan manajemen di kantor.

Mas Bambang berdalih Manajemen Sedikit ibaratnya memasak dengan oven
microwave. Tingal pencet satu tombol. Selesai. Berlainan dengan gaya
manajemen yang biasa, menurut Mas Bambang, lebih mirip dengan memasak
cara tradisional. Butuh waktu dan usaha komplit yang lebih njelimet.

Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam
dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti
apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit.
Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan
senang memotivasi para pekerjanya untuk maju ke depan, secara agresif
dan kreatif.


Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang
menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih
senang mundur ke belakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi
karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka.

Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan kecil. Pokoknya Mas
Bambang berusaha untuk sedikit mungkin mencampuri manajemen. Hasilnya
memang ajaib.

Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan
disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi.
Mereka juga punya rasa optimisme dan percaya diri yang optimal. Saya
jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang
berjudul "Do Less Achieve More". Buku yang ditulis pada 1998 itu,
hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya.

Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari dua
simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang
berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol
kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka
kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.

Mas Bambang bercerita bahwa dahulu dia pernah memiliki seorang
general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin
mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh stafnya merasa stress.
Produktivitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas
Bambang akhirnya memecat sang general manajer.

Dia memerdekakan para staf dan karyawannya dari perasaan stress dan
tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja
yang memiliki dimensi unik, di mana semuanya merasa mudah, sehingga
staf dan karyawannya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.

Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging
kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh dua lembar
uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar pada
1970-an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang
masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu nampak sangat
baru, seperti baru keluar dari mesin cetak.

Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti.
Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana di
antaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya
beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih
berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.

Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku
lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu,
selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu
Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia
menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya
sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai
yang tak terhingga.

Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat
Mpu Peniti dari bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan
seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi
bungkus atau biaya parkir sekalipun.

Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatannya
sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling
berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, di mana kita akan
menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu.

Di saat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk
menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba
kekurangan. Kita diingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah.
Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak
jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.

Sumber: Manajemen Sedikit oleh Kafi Kurnia

Menghargai Pekerjaan

Tiga bulan lalu, Helen memanggil beberapa calon karyawan untuk
wawancara. Dari seluruh pelamar yang dipanggil, Helen tertarik dengan
dua orang yang dinilai paling cocok.

Salah seorang, sebut saja bernama Nana, adalah seorang fresh
graduate. Nana belum pernah bekerja, baru lulus D3 langsung
mengirimkan surat lamaran. Dilihat dari angka akademiknya cukup
bagus, penampilannya di foto juga oke, maka Nana termasuk dipanggil
untuk wawancara pertama.

Ketika datang ke kantor untuk wawancara pertama, Nana tampil oke.
Sebagai seorang fresh graduate, penampilannya lebih baik dari yang
lain. Seakan-akan dia sudah pernah bekerja. Setelah wawancara
selesai, Nana keluar dan melewati ruang resepsionis, Helen tanpa
sengaja melihat bahwa Nana tidak berpamitan kepada resepsionis,
bahkan tersenyum pun tidak.


Seorang calon lain, sebut saja bernama Wati, juga menarik
perhatiannya. Sama seperti Nana, dia juga seorang fresh graduate.
Hanya bedanya, Wati pernah bekerja di sebuah perusahaan selama tiga
bulan. Di perusahaan tersebut, Wati merasakan susahnya bekerja. Dia
tidak boleh seenaknya keluar dari kantor.

Waktu makan siang pun dibatasi. Untuk minta ijin tidak masuk kerja
juga sangat sulit, sehingga dia selalu memilih tetap masuk kerja
meskipun sedang sakit. Untungnya dia hanya pernah sakit flu dua kali.
Bukan penyakit yang termasuk parah.

Waktu dipanggil untuk wawancara, Wati minta agar boleh datang setelah
jam kerja. Helen setuju. Ketika datang, Wati berpenampilan rapi dan
sederhana. Dia dengan cepat menjawab semua pertanyaan. Ketika datang,
dia menyapa resepsonis dengan ramah. Ketika pulang dia juga
berpamitan dengan office girl yang kebetulan menunggu di samping meja
resepsionis. Sopan dan tulus.

Setelah melalui berbagai test, akhirnya kedua orang ini, Nana dan
Wati, diterima bekerja di bagian marketing. Keduanya sama-sama belum
berpengalaman di bidang marketing. Karena itu, mereka berdua harus
sama-sama belajar. Dari pengetahuan produk hingga cara melakukan
pendekatan, cara menjual dan sebagainya.

Nana tampaknya mudah mengerti apabila diberitahu mengenai sesuatu.
Langsung berkata "Ya pak, ya pak." Sehingga atasannya menilai Nana
sangat cepat belajar. Sebaliknya Wati banyak bertanya apabila
diberitahu mengenai sesuatu. Kadang-kadang harus diulang sekali lagi,
baru Wati tampak puas dan mengerti.

Lapor perkembangan

Setiap akhir bulan dia melapor kepada Helen mengenai perkembangan
Nana dan Wati. Kesannya terhadap mereka berdua cukup positif,
sehingga Helen mulai berpikir untuk mempertahankan mereka berdua
setelah selesai masa percobaan.

Seperti biasa, Helen juga seringkali melakukan kunjungan keliling ke
semua departemen, terutama yang ada karyawan barunya.

Ternyata apa yang ditemuinya di lapangan sangat mengejutkan Helen.
Hampir dalam segala hal, Nana selalu bertanya kepada teman-teman lain
atau minta bantuan mereka untuk mengerjakan semua pekerjaannya.

Ternyata semua penjelasan dari atasannya tidak dimengerti sama sekali
olehnya. Setiap kali atasannya selesai menjelaskan sesuatu dan beliau
berlalu, maka segera Nana ribut bertanya kepada yang lain sambil
berkeluh kesah.

Bahkan, seringkali Wati mengerjakan pekerjaan Nana, bukan hanya
membantunya saja. Begitu pula setiap kali Nana menerima perintah dari
atasannya untuk melakukan sesuatu, selalu dia berkeluh kesah panjang
lebar.

Misalnya ketika dia diminta menelepon salah seorang pelanggan yang
sudah lama tidak berhubungan lagi dengan perusahaan tersebut, Nana
mengeluh dengan bersuara keras:"Ah! Sebel deh! Disuruh-suruh melulu!
Harus menelepon orang lagi! Reseh!"

Dan sialnya, Helen mendengar langsung keluhan Nana ketika kebetulan
dia berada di pintu masuk ruangan marketing. Segera Helen
memanggilnya dan menanyakan hal itu, tapi Nana hanya minta maaf saja
sambil tersenyum-senyum

Begitu juga ketika dia harus pergi mengunjungi salah seorang
pelanggan penting, Nana berkeluh kesah seperti biasa. "Huuuh! Sebel!
Masa gua harus pergi lagi! Kan cape?! Masa disuruh-suruh lagi!". Lalu
dia mengajak Wati dan pergi sambil cemberut.

Berbeda dengan Wati. Perintah apapun langsung dikerjakan dengan penuh
semangat. Disuruh kemana pun, Wati siap. Cara kerjanya juga cepat.
Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan, dia tidak pernah keberatan
membantu pekerjaan Nana sambil mengerjakan tugasnya sendiri.

an, diakhir masa percobaan, bisa ditebak siapa yang dinyatakan lolos
dan siapa yang tidak. Helen melihat, Wati sangat menghargai
pekerjaannya yang sekarang karena dia pernah merasakan betapa
beratnya bekerja di tempat kerja sebelumnya.

Di perusahaan yang sekarang Wati sangat bersyukur karena atasannya
tidak segalak dulu. Atasannya mempercayainya, tidak cerewet, dan
memperlakukannya dengan wajar. Jadi Wati sangat menikmati
pekerjaannya yang sekarang.

Sebaliknya Nana menganggap kebaikan atasannya sebagai suatu
kesempatan untuk bisa berbuat seenaknya tanpa takut dimarahi. Dia
menganggap atasannya pasti tidak akan marah kepadanya. Dia masih
menganggap pekerjaan sebagai suatu kegiatan sosial yang sering
dilakukannya.

Karena itu Nana merasa berhak untuk merasa kesal kalau disuruh-suruh.
Nana belum bisa menghargai pekerjaannya. Hargai pekerjaan Anda. Love
Your Job!

Sumber: Menghargai Pekerjaan oleh Lisa Nuryanti

Tuesday, October 14, 2008

Hati Tidaklah Berjarak

Pada suatu pagi yang hening, sang guru bertanyakan kepada
murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah,
ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid
setelah berfikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Kerana
saat seperti itu ia telah hilang sabar, kerana itu ia lalu berteriak."


Tapi…" Sang guru balik bertanya, " Lawan bicaranya itu tidak berada
jauh dari situ, hanya disisinya sahaja. Mengapa harus berteriak?
Adakah ia tidak dapat berbicara baik-baik?" Hampir semua murid
memberikan sejumlah alasan yang pada perkiraan mereka adalah `logic'.
Namun tiada satu pun jawaban yang benar-benar dapat memuaskan hati.

Sang guru lalu berkata: "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan, jarak kedua-dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara
fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang
demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya
jarak hati yang ada diantara kedua-duanya pun menjadi lebih jauh lagi.
Kerana itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." Sang guru
menjelaskan dengan lebih lanjut, "Sebaliknya, apa yang akan terjadi
ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka bukan hanya tidak
berteriak, namun ketika mereka berbicara sekalipun, suara yang keluar
dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun,
kedua-duanya masih berupaya untuk saling mendengarkannya dengan begitu
jelas sekali. Mengapa pula demikian?" Sang guru bertanya sambil
memperhatikan para muridnya.

Mereka nampak berfikir dengan serius sekali namun tidak seorang pun
yang berani bangkit untuk memberikan jawapan. Akhirnya sang Guru
memberikan jawaban, "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka
tidak berjarak. Pada akhirnya sepatah kata pun tidak perlu mereka
ucapkan. Satu pandangan mata sahaja sudahlah cukup untuk membuatkan
mereka memahami apa yang ingin disampaikan. "

Saturday, October 11, 2008

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

Sebuah perenungan (Based on True Story)

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan dan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak. Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.

" Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibunya. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

Friday, October 10, 2008

Kekuatan Memberi



"Rahasia kemakmuran adalah kedermawanan, karena dengan membagi
kepada orang lain, hal baik yang akan diberikan dalam kehidupan
kita, bahkan berkelimpahan. "
-- J. Donald Walters, penulis dan pengajar asal Rumania, tinggal di
India

KISAH nyata ini keluar dari mulut Sang Dokter. Pria yang sehari-hari
berprofesi sebagai dokter mata ini membuka prakteknya di bilangan
Rawamangun, Jakarta Timur. Selain itu, ia juga melayani konsultasi
masalah keluarga, termasuk masalah spiritual. Tanpa dipungut biaya,
alias gratis. Sang dokter menolak dengan halus setiap pemberian uang
sebagai imbalan jasa konsultasi. Ia malah menyarankan agar uangnya
diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya, seperti
yayasan yatim piatu.


Suatu hari, sang dokter kedatangan tamu seorang ibu beserta putranya
yang telah menginjak usia paruh baya. Sang anak dalam keadaan lumpuh
kakinya, sehingga ia harus berada di kursi roda. Maksud kedatangan
mereka sesungguhnya ingin menanyakan seputar masalah keluarga.
Tetapi begitu tiba di ruang dokter, sebelum menyampaikan keluhannya,
sang dokter mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah terhadap si
anak. Putranya, menurut sang dokter, pernah mempunyai kesalahan yang
membuat ibunya sakit hati. Sang anak tentu saja kebingungan. Begitu
pula sang ibu, yang tahu-tahu diungkit peristiwa di masa lalu. Sang
anak mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa masa lampau. Sang ibu
memang mengakui kalau ia dulu pernah sakit hati oleh tindakan
anaknya. Hal itu terus membekas di hatinya menjadi goresan luka
batin, yang akhirnya teringat kembali saat itu juga.

Akhirnya, sang anak pun teringat akan kekilafannya. Ia menyesal dan
menangis. Secara susah payah, sang anak berusaha bangkit dari kursi
rodanya untuk bersimpuh di hadapan kaki ibunya meminta maaf. Ibunya,
dengan berlinang air mata, secara tulus akhirnya memaafkan kesalahan
putranya di masa lampau. Secara refleks, sang ibu mengangkat
putranya berdiri untuk memeluk dan menciumnya. Ajaib, seketika itu
juga sang anak dapat berdiri tanpa dibantu lagi oleh kursi roda.
Sang ibu memang hanya memberikan maaf dengan tulus, tetapi efeknya
sungguh luar biasa.

Kisah ini memang bertolak belakang dengan legenda Malin Kundang.
Dimana sang Ibu menyumpah anaknya menjadi batu. Tak ada batu
berbentuk manusia. Itulah logika yang paling benar dari cerita yang
menyangkut hubungan ibu dan anak. Kisah Malin Kundang selama ini
oleh beberapa pihak dinilai jauh dari cinta kasih seorang ibu yang
sebenarnya. Walau begitu, tetap ada hikmah yang dapat dipetik dari
legenda tersebut.

Sejatinya, Ibu mana yang tega melihat anaknya susah, apalagi menjadi
batu sesuai dengan sumpahnya. Alamak, Ibu adalah pintu keluasan hati
dan penuh maaf. Berkacalah pada ibu. Dia akan rela lebih menderita,
ketimbang melihat anaknya yang kesusahan. Dia akan menyisihkan nasi
yang ada untuk anaknya, walau ia sendiri lapar. Dia akan memakan
makanan yang bergizi agar janin dalam tubuhnya bisa tumbuh sehat.
Seperti dalam bait lagu, 'hanya memberi, tak harap kembali.' Betul,
tak pernah berharap mendapatkan balasan dari semua yang telah
dilakukannya. Itulah makna dari memberi yang sesungguhnya.

Memberi? Betul, memberi. Makna dari sebuah pemberian memang besar
artinya. Lantas, mengapa orang yang berkelimpahan enggan untuk
memberikan sesuatu? Atau, mengapa orang enggan memberikan maaf?
Karena mungkin ia berpikir, bila ia memberi kekayaan, pemberian itu
akan habis begitu saja tanpa kembali. Atau mungkin ia berpikir,
harga dirinya akan turun kalau ia memberikan maaf kepada orang yang
menyakitinya. Padahal justeru sebaliknya. Semakin banyak memberi,
akan lebih semakin banyak menerima. Kalau orang mengetahui kekuatan
memberi, percayalah, akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk
memberikan segala sesuatunya.

Itulah mengapa, dalam setiap agama selalu diajarkan untuk memberikan
sesuatu yang kita miliki. Selain diajarkan selalu memberikan
kebajikan, juga kekayaannya. Umat Islam mengenal Zakat dan Sedekah.
Umat Kristen Protestan mengenal perpuluhan, yaitu kewajiban untuk
memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada rumah Tuhan, dan
Elemosune, yang dapat diterjemahkan dengan kata memberi sedekah.
Umat Katholik mengenal Persepuluhan dan juga Sedekah. Umat Hindu
mengenal Sedekah Dana Punia, yaitu pemberian yang dilakukan secara
sukarela dan tulus ikhlas berupa materi. Sedangkan Buddha
mengajarkan bagaimana menggunakan kekayaan yang telah dimiliki,
yaitu bila ia perumah tangga yang baik, mengumpulkan harta dengan
cara-cara baik, ia harus membantu sanak familinya, serta orang lain
dalam empat bagian, juga dikenal Amisa Dana, yaitu memberikan
bantuan dalam bentuk materi kepada yang membutuhkan.

Pemberian itu seyogianya dilakukan dengan ikhlas, diberikan pada
tempat dan waktu yang tepat. Juga pemberian itu haruslah bertujuan
mulia. Yang patut diingat, memberi tak harus berupa uang. Ia bisa
berupa apa saja. Sekarang, tengoklah lemari pakaian Anda. Apa yang
Anda lihat? Tentu saja sederetan pakaian yang Anda miliki. Nah,
ambil sebanyak mungkin. Bila perlu semuanya, untuk kemudian Anda
serahkan kepada mereka yang membutuhkannya, misalnya yayasan yatim
piatu. Kalau merasa sayang, sisakan beberapa setel saja untuk Anda
pakai dalam bekerja selama satu minggu atau untuk Anda pakai sehari-
hari. Tak perlu banyak berpikir. Pakaian itu mungkin sudah
ketinggalan jaman. Anda perlu memberi lagi yang baru.

Sebuah penelitian menunjukkan, dengan memberi terhadap sesama,
membuat diri kita menjadi lebih bahagia. Hukum kekekalan energi
mengatakan, tiada energi yang hilang bila dikeluarkan. Ia akan
kembali dalam bentuk lain. Begitu pula soal kebaikan, apapun. Ia tak
akan hilang walau Anda telah memberikannya. Bahkan Deepak Chopra
dalam '7 Spiritual Law of Success' mencantumkan 'Law of Giving'
sebagai hukum kedua untuk sukses.

Nah, mulai sekarang, banyak-banyaklah memberi. Memberi maaf. Memberi
senyum. Memberi kebajikan. Memberi kemuliaan. Memberi materi. Dan
sebaiknya, tak usah berharap dari semua pemberian yang telah Anda
lakukan. Karena itulah kebahagiaan sesungguhnya yang didapatkan.
Kebahagiaan memberi. Seperti yang dilakukan ibu terhadap kita: hanya
memberi, tak harap kembali.

Kisah Sebuah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.


"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.


"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."


Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."


"Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi." Pohon apel itu kembali sedih.


Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.


"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.


"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.


"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempa tinggal. Maukah kau menolongku?"


"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.


Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.


"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.


"Aku sedih," kata anak lelaki itu.


"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"


"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

"Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.


Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.


"Maaf anakku, kata pohon apel itu. Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."


"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.


"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.


"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.


"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.


"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.


"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "


"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."


Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Sahabat, Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.


Ketika kita tambah dewasa, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.


Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Ingat dengan nafas merekalah kita lahir kedunia ini, nyawa merekalah yang telah menjaga kita agar tetap hidup dan tumbuh cintailah orang tua kita.


Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah diberikannya pada kita


Salam : Bro Di2t - Samboelostboy


Monday, September 1, 2008

"I am Caine. I will help You."

-- David Carradine sebagai Caine dalam serial tv `Kung Fu'

Namanya Kwai Chang Caine. Siapa dia? Yang jelas dia jagoanlah. David
Carradine adalah aktor yang memerankan si Caine, jagoan kungfu yang
memiliki darah separuh Tiongkok, setengahnya lagi orang Amerika. Di
tahun 1980-an, saban malam Selasa, dia muncul dalam serial dengan
tajuk 'Kungfu'. Berbeda dengan jagoan shaolin yang memiliki
kecepatan dan kekuatan dalam pukulannya, Caine praktis lamban. Namun
dalam sekali gerakan, musuh sudah terpontal-pontal. Kepala benjut.
Kaki dan tangan keseleo. Tapi memang tak ada yang menganggapnya.
Pakaiannya lusuh, rambutnya dibiarkan agak sedikit gondrong. Dia tak
punya rumah, saudara, apalagi pacar. Caine seorang nomaden sejati.
Hanya berteman seruling dan tas yang tak pernah ketahuan isinya.
Siapa sangka, dalam bungkusan yang sederhana bahkan terkesan apa
adanya, dia punya sikap dan perilaku yang luhur. Dengan kemampuan
kungfunya, dia selalu siap menolong orang yang lemah. Tanpa diminta.
Dengan wajah penuh senyum dan tangan terbuka, Caine selalu
mengatakan, "I am Caine. I will help you." Serial Kungfu ini sangat
digemari di negara asalnya, tak aneh kalau serial ini memperoleh
penghargaan sebagai 'award-winning American television series'. Di
Indonesia juga banyak yang demen, walaupun secara koreografi gerakan
seni kungfunya sama sekali tidak menarik. Banyak orang suka dengan
falsafah hidup yang disajikan serial ini. Pas dan mengena.
Kesederhanaan dan ketiadaan bukanlah penghalang untuk memberikan
pertolongan pada orang lain.

NAMANYA Cepot. Tampangnya sama sekali tidak enak dilihat. Jelek
habislah pokoknya. Mukanya merah, giginya nongol. Dandanannya selalu
berbaju hitam, lengkap dengan ikat kepala. Biar pun buruk rupa, dia
selalu menghibur. Lewat tangan dan suara Asep Sunandar Sunarya,
salah satu dalang wayang golek nan kondang, Cepot menjadi ikon di
pertunjukannya, mengalahkan dua saudaranya Dewala dan Gareng. Cepot
tak jelas jati dirinya. Sudah punya isteri atau belum, hobinya apa
pun tak ketahuan. Kerjaannya kalau tidak ngibing alias menari,
paling juga membanyol. Dia juga yang bisa menahan kantuk para
penonton yang bisa bertahan hingga pagi menjelang. Satu gayanya yang
khas yang sulit dilupakannya adalah saat berteriak memohon
pertolongan. "Tulung, tulung, tuluuuuuuuuung" , ujarnya sambil
kemudian diikuti dengan gaya cengengesannya. Penonton pun tertawa.
Itulah dua tokoh hiburan yang akrab di benak penonton. Satu bule,
satunya lokal punya. Caine dan Cepot, keduanya digandrungi dan
disuka, dengan ulah dan falsafahnya. Yang satu pandai beraksi, yang
satunya ngebanyol. Kesamaannya hanyalah nilai falsafah hidup yang
tersirat dalam tayangannya. Namun ternyata semuanya menguap. Cepot
dan Caine nyatanya hanya ada di kotak televisi. Adakah berbekas di
dalam dunia nyata?

NAMANYA Adin. Umurnya pun singkat, 46 tahun. Awal bulan Juni ini,
Adin yang bekerja sebagai petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup
dan Kebersihan Kota Bogor, meninggal dunia secara tiba-tiba. Bukan
karena tersambar angkot yang ugal-ugalan. Atau tertabrak motor yang
menerobos lampu merah. Usianya tak lagi bertambah, karena menderita
kelaparan yang sangat. Menurut cerita sang istri, yang dikutip media
lokal, suaminya meninggal akibat menahan lapar tak terperi. Sejak
malam sebelum ditemukan tewas, Adin hanya makan satu kali sehari.
Itu terpaksa dilakukan karena dia harus berbagi makanan dengan
ketiga anaknya, yang juga sama-sama lapar. Gajinya tak cukup untuk
membeli kebutuhan pokok. Mencari jawab dari persoalan ini tentulah
rumit. Para ahli sosiologi pun kesulitan untuk menjawabnya.
Masalahnya kompleks, pertautan berbagai masalah pada akhirnya hanya
laku di seminar atau ruang kuliah. Dalam dunia nyata, duh, takkan
bisa dicari dengan mudah solusinya.

Caine tak mampir di Bogor. Cepot juga tak ada disana. Perut
keroncongan Adin tak sekencang teriakan milik Cepot yang bisa
mengundang perhatian. Adin menahan sakit dan lemas yang tak
terperikan dalam sunyi siang yang terik. Pengendara mobil yang
melintas dan melihat Adin saat bertugas, tak cukup peka untuk itu.
Pemerintah daerah barangkali tak punya uang lebih untuk memberikan
tambahan penghasilan Adin, meski tak ragu menambah dana demi meraih
penghargaan Adipura sebagai kota terbersih. Barangkali saatnya kita
membuka mata dengan keadaan sekitar. Tewasnya Adin telah membuktikan
makin terkikisnya kepedulian berbagi dengan sesama. Nasi bungkus
seharga enam ribu rupiah yang dibutuhkan Adin nilainya sama dengan
yang kita bayar ketika pintu taksi dibuka atau hanya setengah dari
tips yang kita berikan pada pelayan di restoran. Malah harga rokok
yang kita bakar jauh lebih mahal. Menolong atau berbagi terhadap
sesama bukanlah pekerjaan sulit. Tak perlu harus banyak uang. Dengan
membuat orang lain dapat tersenyum dan tertawa di kala hatinya
gundah pun, Anda telah memberikan sesuatu. Menolong dan berbagi
dengan sesama dapat dilakukan dengan banyak hal. Kita perlu belajar
pada sikap Caine dan sedikit demi sedikit mempraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal-hal yang sepele. Menegur
atau memberi tempat duduk pada wanita hamil di dalam bus atau
kereta, misalnya. Jangan ragu juga untuk mengatakan, "Ada yang bisa
saya bantu?", terhadap orang lain yang sekiranya membutuhkan
bantuan. Sepertinya kita harus melatih kepekaan. Sehingga kita jadi
mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami oleh tetangga atau pun
teman kantor. Dengan berbagi pun kita bisa belajar dan menghargai
kehidupan itu sendiri, kita mungkin bisa lebih memahami perilaku dan
karakter orang lain.

Sikap bermurah hati tidak hanya menguntungkan bagi mereka yang
mendapatkan pertolongan. Sebuah penelitian menunjukkan, dengan
berbagi terhadap sesama, membuat diri kita menjadi lebih bahagia.
Dengan berbagi, juga menjadikan hidup ini lebih bermakna. Apalagi
dalam keadaan yang serba sulit seperti saat ini yang mendera
sebagian besar masyarakat, sikap berbagi perlu terus digalakkan.
Anda tak akan rugi sedikitpun jika Anda mau berbagi terhadap sesama.
Selain Anda melakukan investasi menabung pahala, Anda juga melakukan
investasi kebaikan yang Anda tanam sendiri. Karena hukum kekekalan
energi mengatakan, tiada energi yang hilang bila dikeluarkan. Ia
akan kembali dalam bentuk lain. Begitu pula soal kebaikan. Ia tak
akan hilang walau Anda telah memberikannya. Jadi bila Anda mengalami
kesusahan, percayalah, akan ada orang lain yang datang dan
memberikan pertolongan. (090608)

Sumber: Caine, Cepot, dan Adin oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal
di Jakarta

Saturday, August 30, 2008

Kisah Sebuah Cangkir

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di
sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat
cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju
kepada sebuah cangkir yang cantik.

Lihat cangkir itu, kata si nenek kepada
suaminya.
Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah
aku lihat ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba
cangkir yang dimaksud berbicara

Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui
bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi
cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok
tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari
ada seorang pengrajin dengan tangan kotor
melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku
merasa pusing.
Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu
berkata belum !
lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-
ulang.
Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang itu masih
saja meninjuku,
tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih
buruk lagi
ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas !
Panas ! Teriakku dengan keras.

Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang itu
berkata Belum !.
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan
membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir,
selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum.
Setelah dingin aku diberikan kepada seorang
wanita muda dan ia mulai mewarnai aku.
Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku
berteriak.

Wanita itu berkata belum ! Lalu ia memberikan
aku kepada seorang pria dan
ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih
panas dari sebelumnya!
Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil
menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.
Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia
terus membakarku.
Setelah puas menyiksaku kini aku dibiarkan
dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik
mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca.
Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku
hamper tidak percaya, karena di hadapanku berdiri
sebuah cangkir yang begitu cantik.

Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu
menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :

Seperti itulah Allah membentuk kita. Pada saat
Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan,
sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata.
Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk
mengubah kita supaya menjadi cantik dan
memancarkan kemuliaan-Nya.

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila
kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab
Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan
ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah
yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan
utuh dan tidak kekurangan suatu apapun.

Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup,
jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk
anda.
Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan
tetapi setelah semua proses itu selesai, anda
akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk
anda.

Kisah 4 Istri Raja

Dahulu kala... Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri. Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri. Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya. Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya.

Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri kedua karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu. Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu. Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat. Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, ??Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri??.

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, ??Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu. Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku??? "Tidak akan!" balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.

Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya. Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku??? "Tidak!" sahut sang isteri. "Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!" Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.

Beberapa saat kemudian, sang raja bertanya pada isteri keduanya, ?? Selama ini, bila aku membutuhkanmu, kau selalu ada untukku. Jika nanti aku meninggal, apakah kau akan mengikuti dan terus disampingku?? "Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu!" jawab isteri keduanya. "Yang bisa aku lakukan,hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu." Lagi-lagi, jawaban si isteri bagaikan petir yang menyambar dan menghancurkan hatinya.

Tiba-tiba, sebuah suara berkata:"Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi." Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi. Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, "Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku masih punya banyak kesempatan!"

Dalam realitanya, sesungguhnya kita semua mempunyai 4 isteri? dalam hidup kita.... Isteri keempat? kita adalah tubuh kita. Tidak peduli berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk Kemudian ?Isteri ketiga? kita adalah ambisi, kedudukan dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semua itu pasti akan jatuh ke tangan orang lain. Sedangkan ?isteri kedua? kita adalah keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli berapa lama waktu yang sudah dihabiskan bersama kita, tetap saja mereka hanya bisa menemani dan mengiringi kita hingga ke pemakaman.

Dan akhirnya ?isteri pertama? kita adalah jiwa, roh, iman kita, yang sering terabaikan karena sibuk memburu kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan nafsu. Padahal, jiwa, roh, atau iman inilah yang akan mengikuti kita kemanapun kita pergi. Jadi perhatikan, tanamkan dan simpan baik-baik dalam hatimu sekarang! Hanya inilah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada dunia. Let it Shine!

Aku Datang dan Aku Patuh

Inilah kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.


Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

===============================================================================

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa.


Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.


Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya
sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai.


Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli. Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus.


Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."
===============================================================================
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini". Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.


Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng
Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini". Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar.


Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya
mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta." Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat.


Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.


Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah
buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."
Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan. Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan.


Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,....... Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya.


Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air.
Sungguh telah pergi kedunia lain. Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah..............." demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.
===============================================================================
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan. Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh"
(30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan.


Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian. Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".
===============================================================================
Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.

Tuesday, August 26, 2008

Apakah Anda Seorang Psikopat ?


Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada Sosok
rian, pembunuh berantai sosok "sempurna" dan 'normal" yang jauh lebih jahat
dari penampilannya. Seperti Ryan, seorang psikopat memang kerap menipu lewat
penampilan.

seorang psikopat profesional di bidangnya. Ada yang dokter, psikiater,
psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM,
pendidik, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak
julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar
crime, the best actor, atau "serigala berbulu domba". Dalam kasus kriminal,
psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini
hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang
berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya
tarik luar biasa dan menyenangkan.


Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut
sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang
terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya
integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara
moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang
hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral)

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti
penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/ psikosis) karena
seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri
sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila
tanpa gangguan mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi
dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80%
lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah
sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].

adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis,
jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong
psikopat atau bukan.

"Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan
setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun," papar dr. Suryantha
Chandra, Sp.KJ, kepala Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta.

Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, yang
akhirnya disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 - 35
tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10%
dari seluruh pasien yang datang.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang
'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar
perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan
yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.

Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang
awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian
antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab,
berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).

bila anda atau orang terdekat anda sedikitnya melakukan tiga dari tujuh
ciri khas berikut ini:
(1) gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan
pihak berwajib,
(2) berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara,
menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
(3) meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat
itu juga dilakukan,
(4) mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering
terlibat penyerangan atau adu jotos,
(5) tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain,
(6) tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang
utang,
(7) nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya
bahkan mencuri.
anda harus waspada karena ini merupakan gejala anda atau orang terdekat anda
terkena psikopat.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang
'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar
perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan
yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.Psikopat
biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak
bersalah. mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari
kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari
perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari
tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan
mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan
orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama,
meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin
jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan
membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar
dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat
meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas
dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan
lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara
(itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia
cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi
untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya
dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu
mengontrol sikapnya.

psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat
yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi
mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen - pelaku psikopat -
yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup
dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan
kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang
sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.

psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada
kisah "pwmbunuhan" ,
Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja
adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri,
mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta
kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan.

mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia
bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan
sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang
dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

"psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka
berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah,
psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat
tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis," Mereka tidak
peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir
apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya
pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan
hal serupa," katanya.

Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga
tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan
jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus
dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya
tak selalu mudah.

Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya
pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia
sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan
itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak
menjadi seornag yang psikopat.

Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering
tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena
beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum,
justru menjadi aktivitas "sehari-hari" . Jadi apakah anda psikopat... Saya
berharap bukan ya... coba instropeksi diri deh

Sumber: Internet dan Buku-Buku Psikologi
 

Buat Yang Doyan Nonton !

Cari Lirik Lagu Kamu Disini !

Fuze Mobility

Blog's Update

Bro Sawer is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com