Monday, September 1, 2008

Contact Me


Silahkan klik dibawah ini :




Source 1#Nogo

Page on development, please come back again.

"I am Caine. I will help You."

-- David Carradine sebagai Caine dalam serial tv `Kung Fu'

Namanya Kwai Chang Caine. Siapa dia? Yang jelas dia jagoanlah. David
Carradine adalah aktor yang memerankan si Caine, jagoan kungfu yang
memiliki darah separuh Tiongkok, setengahnya lagi orang Amerika. Di
tahun 1980-an, saban malam Selasa, dia muncul dalam serial dengan
tajuk 'Kungfu'. Berbeda dengan jagoan shaolin yang memiliki
kecepatan dan kekuatan dalam pukulannya, Caine praktis lamban. Namun
dalam sekali gerakan, musuh sudah terpontal-pontal. Kepala benjut.
Kaki dan tangan keseleo. Tapi memang tak ada yang menganggapnya.
Pakaiannya lusuh, rambutnya dibiarkan agak sedikit gondrong. Dia tak
punya rumah, saudara, apalagi pacar. Caine seorang nomaden sejati.
Hanya berteman seruling dan tas yang tak pernah ketahuan isinya.
Siapa sangka, dalam bungkusan yang sederhana bahkan terkesan apa
adanya, dia punya sikap dan perilaku yang luhur. Dengan kemampuan
kungfunya, dia selalu siap menolong orang yang lemah. Tanpa diminta.
Dengan wajah penuh senyum dan tangan terbuka, Caine selalu
mengatakan, "I am Caine. I will help you." Serial Kungfu ini sangat
digemari di negara asalnya, tak aneh kalau serial ini memperoleh
penghargaan sebagai 'award-winning American television series'. Di
Indonesia juga banyak yang demen, walaupun secara koreografi gerakan
seni kungfunya sama sekali tidak menarik. Banyak orang suka dengan
falsafah hidup yang disajikan serial ini. Pas dan mengena.
Kesederhanaan dan ketiadaan bukanlah penghalang untuk memberikan
pertolongan pada orang lain.

NAMANYA Cepot. Tampangnya sama sekali tidak enak dilihat. Jelek
habislah pokoknya. Mukanya merah, giginya nongol. Dandanannya selalu
berbaju hitam, lengkap dengan ikat kepala. Biar pun buruk rupa, dia
selalu menghibur. Lewat tangan dan suara Asep Sunandar Sunarya,
salah satu dalang wayang golek nan kondang, Cepot menjadi ikon di
pertunjukannya, mengalahkan dua saudaranya Dewala dan Gareng. Cepot
tak jelas jati dirinya. Sudah punya isteri atau belum, hobinya apa
pun tak ketahuan. Kerjaannya kalau tidak ngibing alias menari,
paling juga membanyol. Dia juga yang bisa menahan kantuk para
penonton yang bisa bertahan hingga pagi menjelang. Satu gayanya yang
khas yang sulit dilupakannya adalah saat berteriak memohon
pertolongan. "Tulung, tulung, tuluuuuuuuuung" , ujarnya sambil
kemudian diikuti dengan gaya cengengesannya. Penonton pun tertawa.
Itulah dua tokoh hiburan yang akrab di benak penonton. Satu bule,
satunya lokal punya. Caine dan Cepot, keduanya digandrungi dan
disuka, dengan ulah dan falsafahnya. Yang satu pandai beraksi, yang
satunya ngebanyol. Kesamaannya hanyalah nilai falsafah hidup yang
tersirat dalam tayangannya. Namun ternyata semuanya menguap. Cepot
dan Caine nyatanya hanya ada di kotak televisi. Adakah berbekas di
dalam dunia nyata?

NAMANYA Adin. Umurnya pun singkat, 46 tahun. Awal bulan Juni ini,
Adin yang bekerja sebagai petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup
dan Kebersihan Kota Bogor, meninggal dunia secara tiba-tiba. Bukan
karena tersambar angkot yang ugal-ugalan. Atau tertabrak motor yang
menerobos lampu merah. Usianya tak lagi bertambah, karena menderita
kelaparan yang sangat. Menurut cerita sang istri, yang dikutip media
lokal, suaminya meninggal akibat menahan lapar tak terperi. Sejak
malam sebelum ditemukan tewas, Adin hanya makan satu kali sehari.
Itu terpaksa dilakukan karena dia harus berbagi makanan dengan
ketiga anaknya, yang juga sama-sama lapar. Gajinya tak cukup untuk
membeli kebutuhan pokok. Mencari jawab dari persoalan ini tentulah
rumit. Para ahli sosiologi pun kesulitan untuk menjawabnya.
Masalahnya kompleks, pertautan berbagai masalah pada akhirnya hanya
laku di seminar atau ruang kuliah. Dalam dunia nyata, duh, takkan
bisa dicari dengan mudah solusinya.

Caine tak mampir di Bogor. Cepot juga tak ada disana. Perut
keroncongan Adin tak sekencang teriakan milik Cepot yang bisa
mengundang perhatian. Adin menahan sakit dan lemas yang tak
terperikan dalam sunyi siang yang terik. Pengendara mobil yang
melintas dan melihat Adin saat bertugas, tak cukup peka untuk itu.
Pemerintah daerah barangkali tak punya uang lebih untuk memberikan
tambahan penghasilan Adin, meski tak ragu menambah dana demi meraih
penghargaan Adipura sebagai kota terbersih. Barangkali saatnya kita
membuka mata dengan keadaan sekitar. Tewasnya Adin telah membuktikan
makin terkikisnya kepedulian berbagi dengan sesama. Nasi bungkus
seharga enam ribu rupiah yang dibutuhkan Adin nilainya sama dengan
yang kita bayar ketika pintu taksi dibuka atau hanya setengah dari
tips yang kita berikan pada pelayan di restoran. Malah harga rokok
yang kita bakar jauh lebih mahal. Menolong atau berbagi terhadap
sesama bukanlah pekerjaan sulit. Tak perlu harus banyak uang. Dengan
membuat orang lain dapat tersenyum dan tertawa di kala hatinya
gundah pun, Anda telah memberikan sesuatu. Menolong dan berbagi
dengan sesama dapat dilakukan dengan banyak hal. Kita perlu belajar
pada sikap Caine dan sedikit demi sedikit mempraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal-hal yang sepele. Menegur
atau memberi tempat duduk pada wanita hamil di dalam bus atau
kereta, misalnya. Jangan ragu juga untuk mengatakan, "Ada yang bisa
saya bantu?", terhadap orang lain yang sekiranya membutuhkan
bantuan. Sepertinya kita harus melatih kepekaan. Sehingga kita jadi
mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami oleh tetangga atau pun
teman kantor. Dengan berbagi pun kita bisa belajar dan menghargai
kehidupan itu sendiri, kita mungkin bisa lebih memahami perilaku dan
karakter orang lain.

Sikap bermurah hati tidak hanya menguntungkan bagi mereka yang
mendapatkan pertolongan. Sebuah penelitian menunjukkan, dengan
berbagi terhadap sesama, membuat diri kita menjadi lebih bahagia.
Dengan berbagi, juga menjadikan hidup ini lebih bermakna. Apalagi
dalam keadaan yang serba sulit seperti saat ini yang mendera
sebagian besar masyarakat, sikap berbagi perlu terus digalakkan.
Anda tak akan rugi sedikitpun jika Anda mau berbagi terhadap sesama.
Selain Anda melakukan investasi menabung pahala, Anda juga melakukan
investasi kebaikan yang Anda tanam sendiri. Karena hukum kekekalan
energi mengatakan, tiada energi yang hilang bila dikeluarkan. Ia
akan kembali dalam bentuk lain. Begitu pula soal kebaikan. Ia tak
akan hilang walau Anda telah memberikannya. Jadi bila Anda mengalami
kesusahan, percayalah, akan ada orang lain yang datang dan
memberikan pertolongan. (090608)

Sumber: Caine, Cepot, dan Adin oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal
di Jakarta

Penggusuran Mimpi

Tatkala sedang asyik-asyiknya menyiapkan makanan untuk sahur, mendadak datang seorang teman Menyun yang sama-sama bergabung dalam klub Tiger. Dengan terburu-buru ia mematikan mesin motornya, lalu memarkir motornya begitu saja didepan halaman rumah Menyun. Kemudian dengan helm yang masih terpasang ia menyapa Menyun dengan lantang tanpa merendahkan suaranya. Seolah-olah subuh itu ramai seperti pasar pagi.

“Woi! Ente rupanya Dul, kecilin tuh suara. Ini kompleks perumahan. Bukan tempat kita nongkrong. Tamu yang disapa itu bernama Abdulah, pangilannya Dul. Lalu ia menatap Menyun dengan mata yang sembab sambil melepas helmnya.

“Gaswat bro, ini gaswat. Darurat. Siaga satu!"

“Tenang .. tenang dulu. Ada apa ini. Mana ogut tahu ente punya masalah kalo ngomong gaswat mulu."

“Rencana keluarga gw semua berantakan Nyuunn. Coba lu bayangin. Tadi sore emak gw dapet surat dari perwakilan Pemkot kalo perumahan-perumahan di kampung kenyot bakalan digusur sehabis lebaran. Gila pemerintah sekarang. Habis kita berbahagia, senang-senang setelah lebaran, sesudah itu nangis darah yang menanti!” dengan emosi yang meluap Abdulah menjelaskan.

“Ah masa sih, Dul?” jawab Menyun tak kalah kagetnya sambil mempersilahkan Abdulah duduk dulu, kemudian kebelakang membawa makanan yang kebetulan sisa tadi malam belum habis.

“Ini semur jengkol baru ogut panasin, curhatnya sambil sahur aja. Bentar lagi imsak soalnya.”

“Tengkyu bro, kebeneran neh makanan kesukaan gw.” Lanjut Abdulah sambil tangannya meraih centong lalu mengambil nasi gak nanggung-nanggung.

“Gila yah ente, abis ndorong motor apa? Sisain buat tuan rumah dong!”

“Bodo ah, gw laper.” jawab Abdulah singkat.

Bikers itu pikirannya bebas. Tak terkotak-kotak seperti mahasiswa fakultas ekor gajah. Bagaikan lemari tanpa laci-laci yang bisa digunakan untuk menyimpan sesuatu. Segalanya tampak apa adanya, gamblang, spontan dan jujur dimata.

“Pemerintah sudah sakit. Dulu waktu mereka kampanye janjinya menyediakan penghidupan yang layak buat orang kecil. Gimana mau hidup layak, orang tempat tinggal aja bakalan kegusur. Alloh aja memberi kebebasan untuk menempati tempat dibumi ini dimanapun kita mau. “Dan Telah kami jadikan Bumi sebagai tempat tinggalmu yang layak.” Lha kok berani-beraninya manusia menghak kekuasaan Alloh. “Maka berjalanlah dimuka bumi, dan lihatlah bagimana akibat dari perbuatan orang-orang yang mendustakanNya.

“Hebat juga ente Dul, bisa menjabarkan ayat-ayat Qur'an dengan menyambungkannya pada realita sekarang. Lagi gak mabok Dul?”

“Sialan lo, gini-gini sebelum kecemplung dalam dunia motor gw juga pernah nyantri di Jombang. Semuanya digusur. Kemaren baru ajah di Sumatera barat ada berita penggusuran, Di daerah jawa juga gitu, Gilaaa. Mau beribadah kok malah di sumbat sih?”

“Tapi itukan katanya tempat remang-remang yang digusur. Karena menjelang bulan suci yah wajarlah harus dibasmi segala pintu yang bakalan jadi sumbatan orang untuk beribadah.”

“Ya, kalo itu emang bener alasannya. Tapi emang yakin, semua yang tinggal disitu itu biang maksiat apa?? Emang semuanya itu pada kafir? Belum tentu. Mereka cuma terpaksa mengais rejeki ditempat seperti itu. Tidak ada manusia yang mau lahir jadi sampah masyarakat Nyun. Mereka seenaknya ajah menggusur pemukiman, menggusur tempat yang dicurigai sumber maksiat. Lha hotel-hotel bintang lima tempat WTS kelas kakap yang pelanggannya juga pejabat itu apa bedanya? Apa karena yang satu upetinya kurang, terus yang satu lagi upetinya berlimpah? Malah sering disamarkan sebagai pendapatan negara lagikan? Kalau programnya hanya gusur menggusur, lama-lama mereka menggusur mimpi kita sewaktu tidur!” Cerocos Abdulah gak henti henti seperti anak ayam panik yang sedang di intai ular

“Telat ente Dul baru nyadar seperti itu. Orang sudah lama kok mimpi kita digusur oleh program pemerintah yang lebih berpihak kepada kaum behave daripada rakyat kecil seperti kita ini. Sarjana pengangguran makin banyak, kesenjangan miskin dan kaya makin lebar. Biaya pendidikan makin selangit gak terjangkau. BBM semakin menjulang. Gimana caranya rakyat yang kebetulan jadi pedagang gorengan? Tapi semua itu ditutup-tutupin oleh pemerintah. Mereka menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat. Yang namanya meningkat itu yang nganggur jadi punya pekerjaan. Lapangan kerja disediakan. Investasi tidak hanya bertumpu pada perkembangan ekonomi makro tapi harus menjangkau sampe kesudut-sudut rumah reyot seperti rumah ente!”

“Kancut lw Nyun, Gw lagi susah neh, jangan dibikin tambah stres donk! Lw goblok kalo cuman bisa ngasih solusi dengan ngomel-ngomel seperti itu!”

“Jadi maunya gimana donk. Kebanyakan rakyat kecil seperti kita ini sudah putus asa. Gak bisa mikir jernih lagi. Contohnya kemaren ada petani yang ngebakar ladangnya sendiri supaya gak bisa dipanen, biar sekalian semuanya rugi. Mau ngebela rakyat susah mana ada waktu. Apalagi orang yang sudah susah tapi malah nambah nyusahin diri sendiri dan orang lain. Orang sesama rakyat kecil ajah masih suka nindas sesama. Gak bersatu seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Kalo kita berlagak seperti pahlawan jaman sekarang ini gak laku. Karena sekarang ini pahlwan dapat predikat “Kesiangan bangun" dan tak disukai orang....!”

 

Buat Yang Doyan Nonton !

Cari Lirik Lagu Kamu Disini !

Fuze Mobility

Blog's Update

Bro Sawer is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com