Sunday, August 31, 2008

Aku Ingin Sholat

Sebuah pencarian; di Kota, apalagi di Kota besar Jakarta raya, orang harus pintar-pintar mencari pegangan, pedoman kata orang modern, Tuhan bahasa buat kaum religius, Rules of the games bagi para intelektual atau jati diri pada umumnya.

Tapi dalam konteks ini saya lebih memilih istilah "Tuhan" karena sesuai dengan tema saat ini; bulan Ramadhan. Ini bukanlah tulisan mengenai agama tertentu, tidak juga bermaksud menggurui apalagi mendikte anda. Nauzubilahimin dzalik.
Susahnya hidup di Kota besar adalah mencari hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sahabat tahu sendirikan maksud saya, segala macam dinamika kehidupan yang kompleks dan njlimet adalah salah satu faktor penggoda kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Lain di Kota lain di Desa.


======================================================================================


Mestinya malam pertama Ramadhan kita berbahagia, seluruh umat muslim sangat menantikan datangnya bulan suci ini. Betapa tidak? Iming-iming dosa terhapus bagaikan sesosok bayi yang baru lahir kedunia bagaikan "oase" yang tampak dari mata seorang pengembara yang tersesat di padang pasir. Ditengah kebahagian itu satu manusia tak dapat merasakannya.
Maka merenunglah Menyun seorang diri di dalam kamarnya yang pengap dan gelap. Ia bertanya, sedang apa aku disini? apa sebenarnya yang aku butuhkan? apa yang hilang dariku hingga aku selalu dihinggapi perasaan cemas tak kunjung hilang. Tadi siang Menyun melihat di berita di tv, kasus pembunuhan seorang pembantu terhadap majikan, seorang anak tewas terjatuh dari lantai 25, beberapa pekan yang lalu kisah seorang "psycopathic" yang mampu membunuh lebih dari 10 orang. Menyun tidak pernah memimpikan manusia mati dengan cara seperti itu. Melepas nyawa dalam kondisi yang tragis dan ironis.


Seorang prajurit rela mengorbankan nyawa dimedan tempur demi cinta terhadap tanah air. Kebanggaan menyandang predikat pahlawan walaupun ia sendiri telah mati dan tak sempat menikmati. Bahkan harga seorang jendral perang NAZI "Heinrich Himmler" sang penjahat perang paling brutal, kejam dan tangan kedua Hitler masih dihargai nyawanya; mau seperti apa ia menyonsong ajalnya. Sehari sebelum eksekusi dijatuhkan ia dihadapkan dengan dua pilihan. Mati secara terhormat dengan menenggak pil sianida atau tewas didepan regu penembak. Ia pilih menenggak pil Sianida.


Sekarang Bapak membunuh anaknya sudah biasa terdengar, anak hamil karena perbuatan Ayah kandung tak asing ditelinga kita. Penggusuran atas nama tertib kota bukan lagi berita yang aneh. Tangisan korban yang rumahnya kebakaran bukan sesuatu hal yang mengiris nurani kita lagi. Pemerintah seolah lepas tangan. Bantuan yang dijanjikan tiba tak kunjung datang malah penyakit yang menyerang para pengungsi.
Apakah bangsa ini sedemikan keras hatinya. Apakah bangsa ini sudah impoten kewibawaannya. Megah dengan pembangunan tak hentinya tapi hilang akal para manusianya. Gagah diluar keropos di dalam.


======================================================================================


Menyun tak bersemangat menyambut puasa. Ia terpekur dengan angannya sendiri. Ia ketakutan melihat masa depannya yang terancam. Ia berharap semut dikakinya berdoa, cicak didinding kamarnya berdoa, pepohonan berdoa, gunung dan laut berdoa tapi ia sendiri tidak mampu melafalkannya. Mengapa aku masih terdiam disini? Dengan cara apa aku harus meyakinkan diri ini tidak kehilangan suatu apapun. Tak ada hal yang prioritas yang mesti ia kerjakan pertama. Hingga akhirnya ia bosan dan beranjak dari tempatnya. Maka berjalanlah ia dengan gontai menuju tempat wudhu yang lama tak ia kunjungi. "Aku ingin sholat". Hanya itu yang terlintas di kepalanya saat ini...


No comments:

Post a Comment

 

Buat Yang Doyan Nonton !

Cari Lirik Lagu Kamu Disini !

Fuze Mobility

Blog's Update

Bro Sawer is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com